Serah Terima Hasil Studi EGSA-USAID tentang LIKUIDITAS KOPERASI di MASA PANDEMI & MODERNISASI KOPERASI ke Kemenkop UKM RI

Jumlah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Indonesia cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Setelah pandemi terjadi, di akhir tahun 2020 terdapat 17.737 unit KSP. Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) yang menitikberatkan arah kebijakan pada peningkatan kualitas dan bukan kuantitas koperasi. Peningkatan kualitas koperasi dilakukan dengan berbagai strategi
kebijakan, salah satunya adalah mendorong terjadinya modernisasi koperasi.


Sejalan dengan arah kebijakan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 dan strategi transformasi UMKM dan Koperasi, yang salah satunya adalah meningkatkan kapasitas, jangkauan, dan inovasi koperasi, telah disusun rencana aksi berupa; (1) transformasi usaha informal ke formal; (2) transformasi dan pemanfaatan teknologi; (3) transformasi ke dalam rantai nilai; dan (4) modernisasi koperasi.


Studi modernisasi berbasis kewirausahaan ini dilakukan untuk memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Indonesia sehubungan upaya percepatan program modernisasi koperasi. Studi ini menggunakan
pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui survei dalam bentuk wawancara dan pengisian kuesioner dengan responden terpilih. Metode stratified sampling dilakukan dengan menyasar hanya pada anggota,
pengurus dan pengawas koperasi di beberapa wilayah terpilih (DKI Jakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan). Pendalaman terhadap materi dan pertanyaan kunci juga dilakukan melalui Focus Group Discussion
(FGD), yang melibatkan regulator (Kemenkop, Otoritas Jasa Keuangan/OJK, Dinas Koperasi dan UMKM/Dinkop), penyedia jasa Teknologi Informasi (TI) atau yang juga dikenal dengan istilah IT (Information Technology), dan Gerakan Koperasi.


Hasil studi memberi rekomendasi dalam 6 (enam) aspek yaitu; (1) Modernisasi memerlukan literasi bagi pengurus, pengawas, pengelola maupun anggota koperasi. Diklat diperlukan agar literasi modernisasi
meningkat; (2) Sebagian besar koperasi telah memiliki aplikasi core system, namun untuk peningkatan kualitas layanan diperlukan aplikasi digital dengan fungsi front liner; (3) Untuk percepatan dan penghematan
anggaran, koperasi dapat bekerja sama dengan penyedia jasa TI; (4) Pengambilan keputusan lewat rapat anggota koperasi diperlukan agar modernisasi didukung seluruh anggota; (5) Sebanyak 88% dari anggota
koperasi telah menggunakan aplikasi platform yang tersedia di pasar. Maka setelah memiliki aplikasi platform sendiri, koperasi sudah siap untuk menggunakannya; (6) Skema kerja sama penggunaan TI antara
koperasi dan penyedia jasa TI dapat menjadi solusi agar koperasi dapat terus memperbarui dan menggunakan teknologi yang terkini.

Salah satu instrumen modernisasi koperasi adalah teknologi informasi. Penerapan teknologi informasi niscaya memberikan nilai tambah usaha dan menciptakan peluang usaha bagi koperasi dan anggotanya. Penerapan teknologi informasi komputer (TIK) memerlukan dukungan yang kuat dari pengurus, pengelola, dan anggotanya sendiri. Orientasi dalam transformasi dari tradisional ke dalam sistem operasi yang lebih modern memerlukan berbagai aspek perubahan dari sisi operasi, keuangan, akuntansi, pemasaran, maupun layanan. Sedangkan, elemen penentu perubahan tersebut adalah insan koperasi itu sendiri.

Laporan ini disusun oleh Ahmad Subagyo (Senior Cooperative Expert) di bawah pengawasan Irawan Kristianto (EGSA Economic Growth Expert) dan Renata Simatupang (EGSA Chief of Party), dengan dukungan dari Nadya Estefani (EGSA Research Assistant) dan Alberta Christina Cahya Pertiwi
(Konsultan, Research Assistant).

Laporan ini tidak akan mungkin terlaksana tanpa masukan dan kerja sama berbagai pihak. Tim penyusun terutama berterima kasih atas kerja sama dan arahan dari:
• Christina Agustin, A.Pi, MM, Asisten Deputi Pengembangan Teknologi Informasi dan Inkubasi Usaha, Deputi Kewirausahaan, Kementerian Koperasi dan UMKM
• Bagus Rachman, SE., MEc., Asisten Deputi Pengembangan dan Pembaruan Perkoperasian, Deputi Perkoperasian, Kementerian Koperasi dan UMKM
• Dr. Roberto Akyuwen, Senior Executive Analyst, Otoritas Jasa Keuangan

Bagi para akademisi, Peneliti, dan Pelaku Koperasi, hasil studi ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan dalam mengendalikan usaha koperasi ketika menghadapi krisis dan bagaimana strategi untuk bangkit kembali melalui modernisasi Koperasi. Berikut Laporan Studi Modernisasi Koperasi dan studi Likuiditas Koperasi, terlampir.

Speak Your Mind

*