Yahoo finance API is not available right now, please try again soon...

Sarjana dan Pengangguran di Indonesia

Setiap tahunnya, perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia menghasilkan puluhan ribu sarjana. Ironisnya dari sekian banyak lulusan, hanya sedikit yang mendapatkan pekerjaan sesuai keinginan atau latar belakang ilmu yang dimiliki, dan bahkan ada yang sama sekali tidak sempat menikmati manisnya hasil dari perjuangan selama empat hingga tujuh tahun menimba ilmu di perguruan tinggi kebanggaan. Sebuah media baru-baru ini merilis angka fantastis pengangguran di Indonesia, yakni sekitar 7,17 juta orang, dan sekitar 360.000 di antaranya adalah sarjana. Apa masalahnya?

Faktor penyebab tingginya pengangguran di Indonesia

Sesungguhnya, angka pengangguran di Indonesia hanyalah hasil akhir dari kekusutan yang terjadi antara sektor pendidikan dan swasta (bisnis). Banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka pengangguran di Indonesia, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Faktor kualitas sumber daya manusia
    Ini adalah penyebab utama banyaknya sarjana Indonesia yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Perguruan tinggi dinilai hanya menghasilkan sarjana ‘bertitel’ tanpa dibarengi kemampuan yang memadai. Tingginya jumlah pencari kerja memungkinkan perusahaan untuk menyaring yang terbaik, tanpa memandang dari mana asal mereka. Sebagai ilustrasi, saat ini terdapat sekitar 100 ribu tenaga kerja ahli yang berasal dari negara lain, lalu apa yang terjadi dengan lulusan perguruan tinggi dalam negeri sehingga jabatan-jabatan tersebut diisi oleh tenaga kerja asing?
  • Terbatasnya lapangan kerja
    Pertambahan jumlah sarjana di Indonesia tidak diiringi oleh perluasan lapangan kerja secara seimbang. Akibatnya, para sarjana Indonesia harus bersaing memperebutkan peluang kerja yang terbatas. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk kurang kondusifnya iklim investasi di Indonesia, akibat rumitnya persyaratan yang harus dipenuhi calon investor.
  • Faktor paradigma
    Ada suatu paradigma yang keliru di kalangan sarjana Indonesia. Mereka mengasosiasikan kata ‘bekerja’ dengan menjadi karyawan di sebuah institusi, lembaga, maupun perusahaan, sehingga  lulusan perguruan tinggipun berbondong-bondong untuk mencari pekerjaan, bukan menciptakan lapangan kerja. Selain itu, mereka yang menjalankan usaha sendiri di rumah tetap menganggap dirinya ‘pengangguran’ sekalipun penghasilan yang diperoleh dari usaha tersebut lebih besar dari gaji bulanan seorang karyawan. Akibatnya, secara statistik mereka tetap tercatat sebagai pengangguran.

Solusi untuk mengatasi pengangguran di Indonesia

Angka pengangguran di Indonesia tentunya tidak bisa diturunkan semudah membalik telapak tangan. Diperlukan upaya dan komitmen bersama semua pihak terkait. Upaya untuk mengatasi tingginya angka pengangguran di Indonesia tentunya diarahkan kepada faktor-faktor penyebabnya. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Diperlukan upaya untuk membangun kompetensi tenaga kerja agar bisa bersaing dengan tenaga kerja dari daerah lain. Upaya ini dapat dilakukan dengan mengintegrasikan program magang atau pelatihan dengan kurikulum perguruan tinggi serta mengembangkan program-program pendidikan dan pelatihan bagi lulusan perguruan tinggi.

Kemudian, upaya untuk membuka lapangan kerja baru dapat dilakukan dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif. Selain itu, upaya ini dapat dilakukan dengan mengembangkan program padat karya untuk menyerap lebih banyak tenaga kerja, dan menumbuhkan semangat berwirausaha, sehingga para sarjana Indonesia tidak ‘terobsesi’ untuk mencari pekerjaan.

Speak Your Mind

*