Pendidikan Tinggi dan Dunia Kerja

Dunia pendidikan adalah zona yang tidak pernah putus dari masa ke masa dan selalu mengalami perkembangan dari tahun-ketahun. Pendidikan dapat berarti luas, bisa berarti proses akademik dalam menerima ilmu pengetahuan atau pengalaman hidup yang dilalui seseorang. Sementar itu, pendidikan tinggi adalah proses akademik untuk menyiapkan mahasiswa menuju jenjang profesional.

Orang sering mengasosiasikan pendidikan yang tinggi dengan upaya pencapaian gelar akademik tertentu. Di satu sisi, pendapat ini ada benarnya, karena salah satu motivasi mendasar untuk mendapatkan gelar pendidikan adalah untuk bersaing di dunia kerja. Tidak bisa dipungkiri, banyak perusahaan yang mengharuskan para pelamar untuk memiliki gelar akademik tertentu. Namun di sisi lain, keinginan untuk mendapatkan titel terhormat tidak semestinya menjadi satu-satunya motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, karena pada akhirnya kualitaslah yang menentukan apakah seseorang bisa terjun ke dunia kerja atau tidak.

Ketidakselarasan dunia pendidikan dan dunia kerja

Tapi kenyataan dilapangan berbeda dari teori-teori ideal yang dipelajari di kampus. Tingginya pendidikan tidak menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan. Ini adalah suatu ketidakselarasan yang mesti dijawab oleh perguruan tinggi sebagai penyedia tenaga-tenaga muda yang akan mengisi posisi-posisi penting dalam dunia kerja. Jika benar kusut ini tidak diurai, maka besar kemungkinan tingkat pengangguran akan terus meningkat.

Beberapa masalah yang menjadi penyebab Ketidakselarasan tersebut antara lain :

  1. Lapangan pekerjaan yang tersedia kadang kala tidak sesuai dengan tingkat pendidikan ataupun latarbelakang jurusan yang tersedia..
  2. Penyedia lapangan kerja membutuhkan tenaga kerja yang siap pakai, yang memiliki etos kerja yang baik dan ketrampilannya yang memadai. Namun pada kenyataan tidak banyak tenaga kerja yang siap pakai begitu lulus dari perguruan tinggi.
  3. Kurangnya inisiatif lulusan perguruan tinggi untuk membuka lapangan kerja, dan lebih memprioritaskan upaya untuk mendapatkan pekerjaan.
  4. Kurangnya dukungan yang baik dari pemerintah bagi para sarjana yang berkiprah sebagai enterpreneur.

Upaya mengurai benang kusut

Benang kusut antara dunia pendidikan dan dunia kerja di Indonesia layak mendapat perhatian khusus. Namun tentunya, masalah ini membutuhkan kerjasama dari semua pihak terkait, baik itu pemerintah sebagai pembuat kebijakan, dunia kerja, perguruan tinggi sebagai  penyedia tenaga kerja, maupun sumber daya manusia itu sendiri.

  • Sebagai pembuat kebijakan, pemerintah semestinya menyediakan kebijakan yang berpihak kepada perguruan tinggi untuk ‘mencetak’ lulusan yang berkualitas dengan menyediakan fasilitas yang memadai serta tenaga pengajar trampil. Di samping itu, pemerintah diharapkan dapat menciptakan iklim dunia usaha yang kondusif dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung.
  • Pihak perguruan tinggi diharapkan menyediakan kurikulum dan sistem pendidikan yang benar-benar menyiapkan mahasiswa untuk terjun ke dunia profesional yang akan mereka hadapii.
  • Dunia kerja juga diharapkan memberikan apresiasi dan dukungan pengembangan sumber daya manusia
  • Mahasiswa juga diharapkan untuk terus menggali dan mengembangkan potensi dirinya sendiri tanpa harus bergantung kepada pendidikan formal di kampus.

Dukungan semua pihak tentunya akan mempercepat upaya untuk mengurai kekusutan yang terjadi antara dunia pendidikan dan dunia kerja, sehingga angka pengangguran di Indonesia dapat ditekan ke level yang terendah.

Speak Your Mind

*