Yahoo finance API is not available right now, please try again soon...

Indonesia Economic Outlook 2013

Oleh Dr. Ahmad Subagyo

Sebelum memasuki tahun 2013 yang sudah diambang pintu, sebagai pemerhati ekonomi Penulis mencoba untuk menarik garis biru data empiris lima tahun ke-belakang dan memproyeksikan dua tahun ke depan. Berbagai fenomena ekonomi yang terjadi belakangan ini dapat menjadi catatan dalam memproyeksikan kondisi ekonomi tahun mendatang.

Krisis Eropa yang masih terlihat mendung dan belum terlihat titik cerah sampai akhir tahun ini masih membayangi perekonomian dunia, yang dampak nya dapat mengganggu perjalanan ekonomi domestic kita. Stabilitas social yang sempat memanas di lingkungan hubungan industrial menjelang akhir tahun 2012 ini telah ikut mewarnai proyeksi tahun depan.

Di tengah ancaman para investor yang hendak hengkang ke luar negeri dengan membawa serta  usahanya (relocation) karena tekanan para buruh yang seakan tak terkendali.  Perekonomian kita melaju dengan capaian indicator makro yang menggembirakan, pertumbuhan masih di atas 6%, volatilitas nilai tukar rupiah di kisaran Rp.9000/USD, tingkat inflasi masih bisa tertahan rata-rata di bawah 5%/tahun. Suku bunga SBI cenderung menurun sampai akhir tahun 2012 ini berada pada posisi 5,75%,  Namun cadangan devisa kita terus menurun sampai di bawah 120 Miliar USD.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2012 tercatat sebesar 6,17% yang disokong oleh permintaan domestic berupa konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,68% dan investasi tumbuh 10,8%, tapi konsumsi pemerintah turun 3,2% terkait dengan rendahnya realisasi pengeluaran pemerintah.

Di awal tahun 2012, Indonesia telah menempati ranking BB+ dari posisi semula BB, sebagaimana Lembaga Ranking Internasional Fitch Rating dan Moody’s telah menempatkan Indonesia sebagai negara dengan posisi  investment grade, posisi ini mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki stabilitas ekonomi yang baik, tingkat pertumbuhan yang konsisten dan regulasi yang kondusif terhadap investasi asing. Kondisi semacam ini mestinya dapat memicu aliran dana masuk yang lebih deras ke Indonesia untuk berinvestasi di berbagai sector ekonomi.  Namun dalam perjalanannya tidak semulus seperti predikat awal tahun 2012.

Global Competitivenenss Index Rating menempatkan Indonesia pada poisisi 46 tahun 2012 dari posisi sebelumnya di angka 44. Ini mestinya menjadi WARNING bagi Indonesia? Daya saing kita terus merosot dan kemungkinan tahun 2013 akan turun tangga lagi seiring dengan naiknya UMP/UMR di Indonesia yang mencapai 30%-40%, belum lagi ancaman 120 pengusaha di APINDO yang mengancam hengkang dari Indonesia untuk merelokasi ke usaha ke negara-negara ASEAN lainnya.

….. ikuti ulasan selanjutnya hanya di website ini 🙂

Speak Your Mind

*