Workshop Riset Pengembangan Produk

WORKSHOP RISET PENGEMBANGAN PRODUK

Workshop ini bersifat IN HOUSE TRAINING yang diikuti oleh Kadiv dan Kabag Penelitian dan pengembangan di Bank BPD Jateng.

Nara sumber : Dr. Ahmad Subagyo

Ada beberapa materi pokok bahasan, antara lain:

  1. Tahapan dalam Riset Pengembangan Produk Baru
  2. Menyusun Kerangka Acuan Kerja (KAK) Riset
  3. Menyusun Proposal Riset
  4. Membuat Desain Penelitian
  5. Membuat Instrument Penelitian
  6. Melakukan pengukuran terhadap instrumen Penelitian
  7. Menganalisis Hasil Penelitian
  8. Membuat Laporan Penelitian
  9. Menyusun Rekomendasi Hasil Penelitian

Berikut ini, sebagaian materi hasil Workshop:

  1. Hasil Menyusun Proposal Riset
  2. Bentuk Rekomendasi Hasil penelitian
  3. Desain Penelitian

Berikut materi yang bisa di unduh :
1. Kertas Kerja Ciri-Ciri Usaha Mikro
2. Kertas kerja Analisis Persaingan

Berikut sebagian dokumentasinya

market riset training bank bpd

market riset training bank bpd

training market riset

FINANCIAL TECHNOLOGY : MENGUBAH CARA BERBISNIS MASYARAKAT GLOBAL

FINANCIAL TECHNOLOGY : MENGUBAH CARA BERBISNIS MASYARAKAT GLOBAL

Oleh

Dr. Ahmad Subagyo, SE.MM.CRBD.

ORASI ILMIAH

DISAMPAIKAN PADA WISUDA KE XXX

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI

“AECO International”

Semarang, 15 Oktober 2016

Yang kami hormati:

Ketua Yayasan ……….

Ketua STIE AECO Internasional Semarang

Sivitas akademika STIE AECO

Tamu Undangan yang kami mulyakan, dan

Wisudawan/Wisudawati yang berbahagia,

Kita saat ini telah memasuki era di mana kehidupan ekonomi tidak memiliki batasan lagi (borderless). Sumber komoditas yang kita konsumsi bukan lagi hanya berasal dari pelosok negeri, kemudahan distribusi dengan menggunakan berbagai moda transportasi modern, media transaksi yang tidak lagi berbatas dan bertemu dalam marketplace di tangan kita. Bahkan cara dan media pembayarannya pun tanpa memerlukan kantor Bank lagi (branchless banking).

Suatu keniscayaan tentang urgensi literasi di bidang teknologi informasi dengan berlatar belakang pendidikan apa pun, apalagi bidang ekonomi dan bisnis. Sektor yang paling rentan terkena imbas perubahan adalah ekonomi dan bisnis. Perubahan lingkungan, perubahan teknologi, HANKAM, sosial dan sektor lainnya akan berdampak terhadap perubahan ekonomi. Perubahan berbagai aspek berupa data dan informasi beserta segala jenis perubahan apa pun di dunia ini telah terangkum dalam instrumen media di tangan kita (mobile phone).

Teknologi informasi dan cara berkomunikasi yang menghubungkan manusia satu dengan lainnya telah menciptakan perubahan dalam cara berbisnis. Sebelumnya dalam transaksi pembayaran kita mengenal istilah cash, cash dengan cheque, pembayaran tempo dengan bilyet giro, transfer melalui rekening, transfer melalui nomer handphone tanpa rekening, pembayaran via e-money, sampai penggunaan mata uang virtual yang di sebut BITCOIN.

Pembiayaan usaha juga makin beragam, baik sumbernya, jenis instrumennya, lembaganya, maupun produknya. Sumber pembiayaan usaha mulai dari perorangan, lembaga sosial (amal), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM-NGO) baik lokal maupun internasional, Program Hibah Pemerintah, Koperasi, perusahaan swasta (program CSR), dan perusahaan milik pemerintah-BUMN (melalui PKBL). Instrumennya juga bervariasi, ada yang berbentuk modal penyertaan, pinjaman, sertifikat saham, dan sebagainya. Produk layanannya juga beragam, ada yang dalam bentuk kredit, pinjaman, pembiayaan modal, penyertaan modal, sewa beli (leasing), gadai, bahkan ada yang menggunakan model crowde Funding.

Hadirin yang berbahagia,

Akses informasi seringkali menjadi kendala bagi masyarakat untuk mendapatkan berbagai layanan publik. Mahasiswa dan kalangan akademis lainnya juga mengalami hal yang sama. Para lulusan perguruan tinggi sebagai bagian dari masyarakat intelektual juga berada dalam wilayah dark information area. Literasi keuangan sebagai bagian dari upaya financial inclusion bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang berbagai produk, lembaga dan instrumen keuangan kepada masyarakat agar dapat menjadi masyarakat yang well literate.

Berdasarkan survei Literasi Keuangan yang dilaksanakan pada 2013, hanya 21.8% masyarakat lndonesia yang dapat dikategorikan well literate dengan tingkat utilitas jasa dan produk keuangan sebesar 59.7%. Untuk itu, diperlukan program edukasi dan literasi keuangan yang mampu menciptakan masyarakat yang well literate mengenai pengelolaan keuangan (Annual Report, OJK, 2014).

Jumlah usaha mikro kecil kita sekitar 52 juta dan lebih dari separoh dari mereka belum mengakses ke lembaga keuangan formal (riset Bank Dunia, 2012). Masyarakat usaha mikro yang sebagaian besar berdomisili di wilayah perdesaan mengalami kesulitan menjangkau layanan lembaga keuangan formal. Sehingga diperlukan media dan instrumen yang mendekatkan antara lembaga keuangan dengan masyarakat yang dilayaninya.

Lalu muncullah, beberapa inovasi kebijakan seperti branchless banking, mobile banking, e-money dan sebagainya.

Pemahaman yang baik terhadap literasi keuangan diyakini mampu memperkecil gap kemiskinan dan keterbelakangan. Literasi keuangan yang baik mampu meningkatkan akses keuangan. Akses keuangan berupa permodalan/pembiayaan, tabungan dan asuransi merupakan pokok kebutuhan layanan keuangan bagi setiap orang. Peningkatan akses permodalan akan mendorong sektor riil untuk bergerak karena ada investasi baru. Peningkatan tabungan masyarakat akan mendorong likuiditas perbankan naik, dan akan menekan tingkat suku bunga pasar kredit sehingga kondisi iklim berusaha akan semakin kondusif bagi para pelaku usaha. Sementara peningkatan keterlibatan masyarakat pemegang polis asuransi akan mampu mendorong industri ini bergerak tumbuh dan pada akhirnya perusahaan ini akan mampu memberikan layanan yang optimal, baik dalam risk covering maupun penjaminan atas kegagalan usaha suatu bisnis tertentu.

Hadirin yang saya muliakan,

Saat ini infrastruktur keuangan sudah establish baik sistem operasi maupun supervisinya, terutama yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun dalam prakteknya, ternyata inovasi keuangan telah melesat cepat melewati rambu-rambu regulasi sistem keuangan yang ada saat ini. Model transaksi keuangan yang berbasis on-line mampu beroperasi one to one, face to face tanpa melalui perantara lembaga keuangan existing, yang populer di sebut dengan financial technology (fintech).

Salah satu produk financial technology adalah crowde funding. Produk ini mampu mempertemukan orang yang membutuhkan dana dan mereka yang memiliki dana untuk saling bertransaksi dalam bidang investasi. Mereka tidak menggunakan lembaga keuangan dalam bertransaksi, cukup menggunakan media online sebagai marketplace-nya.

National Digital Research Centre di Dublin, Irlandia mendefinisikan financial technology atau fintech sebagai: “innovation in financial services” atau “inovasi dalam layanan keuangan”. Definisi tersebut memiliki pengertian yang sangat luas, perusahaan fintech dapat menyasar segment perusahaan (B2B) maupun ritel (B2C).

FinTech di Indonesia memiliki banyak jenis, antara lain startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, riset keuangan. Mereka beroperasi seperti halnya lembaga-lembaga keuangan tradisional lainnya (seperti: Bank, Modal ventura, multifinance, payment poin, dan sebagainya).

Cara pembiayaan usaha dengan berbasis online melalui crowde funding, cara menemukan pasar antara suply and demand ada di marketplace, cara berjualan dan memasarkan produk melalui e-commerce, dan cara pengiriman barang melalui e-courier menjadi trend bisnis di masa yang akan datang.

Hadirin sekalian yang berbahagia,

Untuk memenangkan persaingan dalam era digital dewasa ini dibutuhkan persyaratan, antara lain:

  1. Penggunaan IT. Siapapun yang ingin menang dalam berkompetisi harus menggunakan/menguasai teknologi informasi.
  2. Berjejaring. Berbisnis secara individual dapat berjalan dan bertumbuh namun relatif lambat dibandingkan berbisnis dengan kelompok komunitas. Misal: komunitas pedagang, komunitas dokter, komunitas pelajar, komunitas mahasiswa, dan sebagainya.
  3. Terbuka dengan akses permodalan. Pelaku bisnis harus memiliki pengetahuan yang baik tentang berbagai sumber permodalan dengan biaya yang efisien, jika ingin menang bersaing.
  4. Terbuka dengan akses pasar. Cara menemukan dan mengelola pasar sangat menentukan dalam persaingan.
  5. Terbuka dengan akses produksi dan distribusi. Pengusaha harus mampu mengakses sumber-sumber produksi dengan biaya seefisien mungkin, hal ini dapat dilakukan jika didukung dengan sumber-sumber informasi yang aksesibel dan berkualitas.

Hadirin sekalian yang berbahagia

Demikian orasi ilmiah yang dapat saya sampaikan untuk memberikan bekal pengetahuan kepada para mahasiswa yang saat ini akan diwisuda sebagai sarjana ekonomi. Mudah-mudahan dapat bermanfaat dan menginspirasi hadirin sekalian. Terima kasih

Semarang, 15 Oktober 2016

Orator

Ahmad Subagyo

DAFTAR PUSTAKA

Laporan Tahunan 2014, Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Laporan Riset, 2012, Bank Dunia Kantor Jakarta

Laporan Survey, 2014. Intermedia Indonesia FII Tacker Survey, November 2014.

https://www.finansialku.com/apa-itu-industri-financial-technology-fintechindonesia/

https://fintech.id/

hitsss.com › Startup

BIODATA SINGKAT

Lahir di Pekalongan, 12 Februari 1972. Lulus Sarjana Ekonomi dan Magister Management dari Unsoed Purwokerto. Selama 20 tahun aktif sebagai  pengajar pada perguruan tinggi diantaranya UNIKAL, UPI Padang, Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Departemen Perindustrian RI, Fakultas Ekonomi UNPAD Bandung, dan  Dosen Tetap STIE GICI Business School.  Dalam sepuluh tahun terakhir beliau mengisi berbagai seminar dan training-training ( Public dan In house training) untuk banyak perusahaan baik Perusahaan BUMN ataupun swasta, Perbankan baik asing ataupun Perbankan Nasional.

Pemegang sertifikasi Direktur Bank dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan LSP CERTIF ini juga telah memiliki jenjang kepangkatan Dosen dari Dirjen Dikti Pendidikan Nasional dengan jabatan terakhir LEKTOR KEPALA, prestasi akademik sebagai Dosen Berprestasi Kopertis Wilayah IV Jabar-Banten 2011. Beliau juga masih aktif sebagai anggota Komite Resiko dan GCG perusahaan BUMN (PT. Pupuk Kujang Cikampek).  Selain mengajar sejak tahun 2011 bergabung di Bank Dunia sebagai Konsultan Finance and Market. Selain itu beliau juga penulis buku diantaranya tentang studi kelayakan (2007), Account Officer for Commercial Microfinance (2009), Commercial and Grassroot Microfinance (2010), MARKETING IN BUSINESS (2010), Manajemen Koperasi Simpan (2014), Manajemen Operasi LKMS (2014), Kamus Ekonomi Islam (2009), Keuangan Mikro Syariah (sebuah pengantar) (2015), Teknik Penyelesaian Kredit Bermasalah (2015) dan lain-lain.

ahmad-subagyo

sidang-senat-terbuka

Bimtek Pengawasan Koperasi Simpan Pinjam

Memahami tentang praktek keuangan mikro syariah bagi masyarakat awam bukanlah sesuatu yang mudah, selain harus memahami tentang prinsip-prinsip keuangan mikro mereka juga harus mempelajari tentang keuangan syariah. Namun dengan diketemukannya instrumen kepatuhan akan memudahkan kepada setiap orang untuk dapat mendeteksi suatu lembaga keuangan yang menamakan dirinya keuangan mikro syariah.

Instrumen ini disusun berdasarkan hasil kajian disertasi yang disusun oleh Ahmad Subagyo dalam meraih gelor doktoralnya di Program studi Pengkajian Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2011.

Kajian yang menggunakan pendekatan kualitatif tersebut, kemudian dilanjutkan dengan analisis kuantitatif setelah prinsip-prinsip kepatuhan diketemukan. Prinsip-prinsip kepatuhan yang dijadikan variabel endogen dan dikorelasikan dengan performa kinerja lembaga dan di-analisis dengan menggunakan metode Structural Equation Model (SEM), diperoleh empat variabel yang secara signifikan mempengaruhi kinerja lembaga keuangan yang di-teliti.

Variabel kepatuhan terhadap prinsip-prinsip keuangan mikro yaitu:

  1. Variabel Sasaran Produk Keuangan
  2. Variabel bentuk jaminan pembiayaan/pinjaman

Variabel kepatuhan terhadap prinsip—prinsip keuangan syariah, yaitu

  1. Variabel Tujuan Layanan keuangan
  2. Variabel Bentuk perjanjian/perikatan (akad)

Untuk menggunakan instrumen analisis kepatuhan ini, diperlukan beberapa kertas kerja, yaitu:

  1. Kuisioner yang perlu diisi oleh sekurang-kurangnya 6 (enam) orang yang terdiri dari:
  • Pendapat dari Pimpinan Lembaga (Ketua pengurus/Direktur/Pengawas) = 1 (satu) orang
  • Pendapat dari Staf pembiayaan (Account Officer/admin/analis) = 1 (satu) orang
  • Pendapat dari Dewan Pengawas Syariah = 1 (satu) orang
  • Pendapat dari anggota/debitur yang dilayani = 3 (tiga) orang

Sehingga total responden-nya adalah sebanyak 6 (enam) responden.

  1. Lembar Kerja

Lembar kerja ini dipergunakan untuk menghitung nilai dari kuisioner pada masing-masing jawaban dalam kuisioner.

Hasil akhir dari perhitungan penilaian portofolio akan menempatkan posisi LKMS pada kuadran I, Kuadran II, Kuadran III, atau Kuadran IV.

Kuadran I artinya LKMS pada prakteknya tidak mematuhi prinsip-prinsip keuangan syariah, namun menjalankan prinsip-prinsip keuangan mikro;

Kuadran II artinya LKMS pada prakteknya tidak mematuhi prinsip-prinsip keuangan mikro dan keuangan syariah, ia beroperasi seperti halnya lembaga keuangan konvensional formal.

Kuadran III artinya LKMS berpraktek dengan memenuhi kepatuhan keuangan mikro dan syariah.

Kuadran IV artinya LKMS berpraktek seperti Lembaga Amal yang memberikan dana hibah kepada sasarannya tanpa imbalan dan tanpa kewajiban untuk mengembalikannya.

Berikut materi yang Anda bisa upload

1. KASUS LK1-analisis kepatuhan terhadap syariah
2. KASUS LK2-analisis kepatuhan terhadap syariah
3. KASUS LK3-analisis kepatuhan terhadap syariah
4. KASUS LK4-analisis kepatuhan terhadap syariah
5. Kuisioner Kepatuhan syariah
6. LEMBAR KERJA Kepatuhan

Berikut sebagian dokumentasinya

narasumber

narasumber

narasumber

suasana workshop

narsum-bimtek-bersama-peserta-di-aceh

narsum-di-aceh

narsum

IN HOUSE TRAINING LIQUIDITY RISK MANAGEMENT BANK BPD SULSELBAR

15-16 Agustus 2016

Pelatihan ini diikuti oleh Mantan Pejabat Senior Bank Mandiri, Dewan Komisaris Bank Sulselbar, dan Anggota Komite Dekom Bank Sulselbar

Latar Belakang

1. Bahwa untuk menjaga kelangsungan operasional bank dan kepercayaan masyarakat, bank harus memelihara likuiditas dana yang cukup untuk memenuhi kewajibannya pada saat jatuh waktu.

2. Untuk mengantisipasi secara dini terjadinya kesulitan likuiditas, bank perlu mengelola likuiditas sesuai dengan prinsip kehati-hatian melalui sistem pemantauan likuiditas yang baik.

3. Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan suatu penetapan kebijakan Manajemen Risiko Likuiditas yang dituangkan dalam suatu Buku Pedoman Perusahaan (BPP) Manajemen Risiko Likuiditas termasuk Perencanaan Pendanaan Darurat (Contingency Funding Plan).

Landasan Hukum

1. Undang-UndangNomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang telah diubah dengan UU Nomor. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan.

2. Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia 11/25/PBI/2009 tanggal 1 Juli 2009.

3. Surat Edaran Bank Indonesia nomor 11/16/DPNP tanggal 6 Juli 2009 Perihal Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas.

4. Surat Edaran Bank Indonesia nomor 13/23/DPNP tanggal 25Oktober 2011 Perihal Perubahan atas Surat Edaran No. 5/21/DPNP Perihal Manajemen Risiko untuk Risiko bagi Bank Umum.

Tujuan

1. Manajemen Risiko Likuiditas bertujuan memelihara kestabilan likuiditas dana dan mencapai kestabilan sumber dana. Kebijakan ini menjadi hal yang fundamental dan penting dalam prinsip Manajemen Risiko

2. Pengetahuan yang lebih baik tentang manajemen likuiditas yang dapat dijadikan panduan pada unit kerja dengan mempertimbangkan sisi bisnis serta mempertimbangkan faktor risiko yang ada, serta memperjelas tanggung jawab dan koordinasi setiap unit kerja yang terlibat dalam proses pengelolaan likuiditas.

3. Panduan yang dimaksud adalah berfungsi sebagai kontrol terhadap sumber dana dari seluruh transaksi yang terjadi dan memperhitungkan aspek kerugian yang akan terjadi (risiko) dalam berbagai tingkatan transaksi yang ada

Pelatihan ini diikuti oleh Mantan Pejabat Senior Bank Mandiri, Dewan Komisaris Bank Sulselbar, dan Anggota Komite Dekom Bank Sulselbar

Berikut sebagian materinya : Liquidity Risk Management Training

Berikut Dokumentasinya

foto workshop

foto pembicara

IN HOUSE TRAINING CREDIT RISK – RATING & SCORING

IN HOUSE TRAINING

BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)

CREDIT RISK – RATING & SCORING

Financial Credit Management adalah tindakan penciptaan nilai ekonomis pada perusahaan dengan cara mengelola resiko yang dihadapi, terutama Credit Risk dan Market Risk. Untuk melaksanakannya, dibutuhkan pengenalan terhadap sumber resiko, mengukurnya, dan kemudian menanganinya. RISK MODELING, adalah suatu cara menangani risiko dengan menggunakan teknik-teknik umum ilmu ekonometri, untuk menentukan resiko agregat pada suatu portfolio keuangan. Risk Modeling adalah bagian yang termasuk dalam lingkup tugas- tugas Financial Modeling.

Risk Modeling memanfaatkan berbagai teknik untuk menganalisa suatu portfolio dan membuat perkiraan kerugian mungkin terjadi atas beragam risiko kredit. Banyak perusahaan besar keuangan menggunakan Risk Modeling untuk membantu Manajer Portfolio dan Manajer Kredit dalam menilai jumlah cadangan kapital yang perlu dijaga, dan untuk membantu menentukan tingkat pembelian dan penjualan terhadap berbagai aset keuangan.

Para pemberi pinjaman, misalnya bank, pengelola kartu kredit, dan perusahaan telekomunikasi seluler, menggunakan CREDIT SCORES untuk mengevaluasi potensi risiko dari pemberian piutang “dana atau produk” kepada para konsumennya, dan untuk mengurangi kerugian yang terjadi karena kredit macet. Pemberi pinjaman menggunakan Credit Scores untuk menetapkan siapa yang berhak/qualified untuk mendapat pinjaman, berapa bunganya, serta batas kreditnya. Penggunaan Credit Scoring/Identity Scoring sebelum persetujuan/pemberian akses kredit, adalah implementasi sistem yang terjamin baik.

Penggunaan Credit Scoring tidak terbatas pada industri perbankan. Organisasi-organisasi lain, seperti perusahaan mobile phone, asuransi, instansi pemerintah, dan perusahaan lainnya juga menggunakan teknik tersebut. Credit Scoring memiliki banyak persamaan metode dengan Data Mining, yang juga menggunakan teknik serupa.

MATERI PROGRAM

• Credit Risk Overview
• Credit Scoring dan Business Intelligent
• Manfaat credit scoring dan credit rating
• Konsep penyusunan sistem credit scoring dan credit rating
• Konsep pengujian/validasi/backtest sistem scoring dan credit rating
• Monitoring sistem credit scoring dan credit rating
• Penggunaan credit scoring dan credit rating dalam kerangka Basel 2
• Analisa risiko dua-dimensi menggunakan sistem credit scoring dan credit rating
• Tantangan-tantangan dalam penyusunan dan implementasi sistem credit scoring dan credit rating

Agenda Program

Berikut Dokumentasinya

belajar

foto peserta bersama narsum

serius